Lelahnya saya dengan kepura-puraan.
Dengan kesemuan.
Dengan tidak menjadi diri saya sendiri.
Saya harus berubah.
Demikian kata orang-orang.
Tidak boleh lagi sembrono.
Apalagi seronok.
Tidak boleh ada lagi sandal jepit yang begitu nyaman di kaki saya.
Celana pendek pun dibatasi penggunaannya.
Apa mereka pikir saya tidak mengenal kesopanan.
Dan tidak bisa menempatkan diri dalam situasi.
Baiklah saya ikuti.
Setiap laku yang mereka mau.
Menjadi rapih.
Walaupun saya risih.
Demikianlah laku itu saya perankan.
Saya senang melihat mereka senang dengan kepura-puraan saya.
Saya menjadi mereka.
Membosankan dan menggelikan.
Saya bukan pemberontak.
Saya juga tidak ingin dibilang tampil beda.
Saya hanya “menyamankan” diri saya sendiri.
Kurang beruntung, mereka tidak nyaman dengan itu.
Ironi.
Saya tidak akan pergi ke pesta dengan sendal jepit saya.
Tapi ke bioskop?? Hmmmm.. saya akan pakai.
Celana pendek saya pun sudah rindu mencium tempat duduk restoran cepat saji itu.
Dia iri dengan celana jeans belel yang sekarang selalu menempel dengan pantat saya.
Orang-orang itu.
Apakah mereka hanya melihat seseorang dari penampilan saja?
Dari “rapihnya” saja?
Atau dari apa?
Saya tidak memaksa mereka untuk mengerti diri saya.
Saya hanya mencoba membuat mereka mengerti diri mereka sendiri.
Adzari Anandito
21.08 WIB
13-02-2010
AVENGED SEVENFOLD - Second Heartbeat

